Senin, 30 Juni 2014

MANAGEMEN KELAS

5. Mengefektifkan Posisi Tempat Duduk Siswa
            Pengaturan posisi tempat duduk siswa di kelas tidaklah netral. Pengaturan sngat berpengaruh bagi para siswa, interaksi antarmereka, dan interaksi dengan guru. Hal ini berarti bahwa pengaturan posisi tempat duduk siswa memberi dampak dalam proses pembelajaran. Pengatauran posisi tempat duduk siswa dari tingkat Taman Kanak- kanak (TK) hingga SLTA sering dipandang oleh guru hanya hal remeh, serta tidak berpengaruh terhadap kehidupan dan dinamika kelas. Berdasarkan pengalaman maupun pengamatan dapat disimpulkan bahwa tata letak tempat duduk siswa dalam kelas formal di sekolah pada umumnya berbentuk format kolom dan baris (Format KB).
            Kenyataan dan pemandangan demikian, artinya dalam format KB. Merupakan pemandangan sehari – hari sepanjang masa. Tanpa kita sadari format tempat duduk siswa sebenarnya memengaruhi pola interaksi siswa : tinggi rendahnya interaksi siswa juga terkondisi oleh format tempat duduk : padahal intensitas interaksi antara guru dan siswa, antara siswa dan siswa dapat mempengaruhi hasil belajar.
a. Kelemahan Format KB
            Format KB bukannya tidak memiliki keunggulan. Untuk tujuan pendidikan yang lebih mementingkan penanaman disiplin militeristik, format KB paling efektif. Beberapa kelemahan KB adalah :
1)     Format KB mendorong guru sebagai pengelola kelas menganut teknik berceramah
2)     Pola komunikasi kelas hanya bersifat dua arah, yaitu antara guru dan siswa saja
3)     Multi interaksi antarsiswa kurang hidup, akibatnya kelas cenderung bersifat pasif dan kurang responsif
4)     Kehidupan kelas sangat tergantung dan didominasi oleh guru, akibatnya perhatian guru terhadap siswa yang tergolong dalam level bawah kurang mendapat perhatian
5)     Rentang pandan serta perhatian guru sangat terbatas pada siswa yang duduk dideretan depan – tengah
b. Ragam dan Format
            Format posisi tempat duduk siswa sebaiknya dibuat luwes sehingga dapat diubah – ubah sesuai kebutuhan dan persyaratan pembelajaran. Artinya, tempat duduk siswa dapat dibentuk sesuai dengan rancangan pembelajaran dana jenis teknik pengajaran yang dipilih guru. Harus kita akui bahwa ragam rancangan format posisi tempat duduk siswa dapat membuahkan berbagai hasil positif :
1)     Kebosanan dan kondisi sehari – hari dapat diperkecil peluangnya
2)     Keakraban antarsiswa dapat ditumbuhkan
3)     Guru akan lebih mudah mengenali kelebihan dan kelemahan tiap siswa apabila ia sering membagi kelas dalam kelompok kecil dan selanjutnya menyatu secara bergilir dengan kelompok kecil tersebut
4)     Dinamika kehidupan kelas akan lebih mudah terbentuk
5)     Karena peran siswa secara kuantitatif dan kualitatif cenderung meningkat, maka daya serap siswa menjadi lebih besar
6)     Penggunaan ragam format tempat dudukk siswa kelas mendorong siswa saling mengetahui sifat masing – masing dengan demikian proses sosialisasi akan terbentuk secara alamiah.
7)     Cakrawala pandang siswa lebih luas, serta arah pandang siswa bersifat ganda dan menyebar
c. Syarat – Syarat Peragaan
            Pemilihan salah satu bentuk format tempat duduk siswa sangat dipengaruhi oleh tujuan yang akan diraih, rancangan pembelajaran yang telah disiapkan, dan jenis bahan ajar yang akan ditekuni siswa. Adapun format yang dapat dipilih guru haruslah :
1)     Memiliki kemudahan untuk mengembangkan dan memantau proses pembelajaran yang sedang berlangsung
2)     Selalu memungkinkan guru memiliki akses untuk berkomunikasi dengan siswa
3)     Menjaga proses pembelajaran yang sedang berlangsung
4)     Dapat menyesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis siswa
5)     Menjaga asas keadilan bagi setiap siswa
6)     Terlebih dahulu dijelaskan dengan serangkaian langkah yang seragam yang memberi petunjuk bagi tiap siswa
Bagan
Format Kolom-Baris (KB)
G
 



                                             M         M          M        M          M        M
                                             M          M         M        M         M        M
                                             M          M          M        M        M        M              keterangan
                                             M         M          M        M        M        M              G = guru
                                                                                                                             M = murid





Bagan
G
Jebakan Format KB terhadap Rentang Pandang Guru


                                             M         M          M        M          M        M
                                             M          M         M        M         M        M
                                             M          M          M        M        M        M             
                                             M         M          M        M        M        M             

Bagan
Format Lingkaran Besar


G
 







Bagan
Format Lingkaran Kecil

G




Bagan

Format Kotak Besar
M               M                M                 M             M
M                                                                         M
M                                    G                                  M
M                                                                         M
M               M                M                 M             M








Bagan
Format Kotak Kecil


 


                                                         G                             G




                                                         G                             G




6. Mengembangkan Pemetaan Bahan
            Siswa yang cerdas akan dengan mudah melakukan visualisasi (pemetaan) atas masalah, apa yang dibaca, hasil, pertanyaan, pembicaraan dan sebagainya. Pemetaan adalah kemampuan seorang untuk mencari yang inti, bagian (sub), sebab, akibat dan sebagainya. Ada beberapa model pemetaan untuk melatiih cara berpikir siswa :
a.      Pemetaan Model Sikli
Pemetaan model ini biasanya digunakan ketika subjek ( bahan yang menjadi bahasan) mempunyai tahap kehidupan yang sifatnya siklis
b.     Pemetaan Model Radial
Pemetaan model ini digunakan pada saat topik utama bahan yang akan dibahas memiliki bagian yang lebih kecil atau subbagian / subtopik
c.      Pemetaan Model Konvergen
Pemetaan model konvergen digunakan untuk menunjukan dampak yang disebabkan oleh berbagai faktor
d.     Pemetaan Model Perbandingan
Pemetaan  model perbandingan digunakan untuk memperlihatkan dua hal atau lebih yang memiliki karakteristik atau ciri sama dan atu berbeda. Pemetaan ini juga dapat ditunjukan dalam bentuk Venn
e.      Pemetaan Model Hierarkis
Pemetaan model hierarkis digunakan untuk mengurai topik untama menjadi subtopik yang lebih kecil
f.      Pemetaan Model Linier
Pemetaan model linier digunakan utuk memperlihatkan proses yang memiliki tahap awal dan tahap akhir


Tidak ada komentar:

Posting Komentar